SI PENGATUR MIMPI

Detik pada jam yang terus berjalan perlahan membungkam pikiran yang penuh dengan berbagai macam rencana dan kata-kata ambigu mengenai kewajiban keseharian---kuliah .  Ada satu hal yang terselip saat pikiran ini mengaduh tentang semua pekerjaan yang membuat muak. Satu hal yang membuat semua isi pikiran semacam lenyap diburu oleh ketakutan dan kekuatiran. Satu kata. IMPIAN. Kata yang menjadi penggairah pikiran, penggugah semangat serta kehidupan keseluruhan. Seolah menjadi penyorak pribadi dalam ketiadaan pikiran pemiliknya untuk berbuat setingkat di atas keterbatasannya. 

Semua orang di pelosok bumi ini bebas melayang dengan impian yang tidak jarang terlalu melebihi kemampuannya. Seorang anak pengemis bisa bermimpi menjadi presiden bagi negara yang sakit ini agar tidak ada lagi orang susah sepertinya. Mimpi yang mulia, manis. Tapi itulah mimpi. Dunia di mana kita dapat menjadi seorang superhero, pengusaha sukses, dokter mulia atau bahkan hanya menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Naif memang, tapi tidak ada yang melarang kenaifan di dunia mimpi.

Bicara mengenai impian selalu membuatku bergairah. Impianku yang hanya sederhana ini sejak dulu selalu tergambar besar di dalam awang-awang. Selalu bebas mengitari pikiran dan sedikit-sedikit ada tambahan kecil di dalamnya seiring berjalannya waktu. Tapi tidak lagi tahun-tahun belakangan ini.

Baru saja semester baru memasuki minggu keempatnya di tahun keempat perkuliahanku. Ya, tahun keempat. Pertanyaan terbesar adalah, apa yang sudah kudapat selama waktu itu? Dengan mengesampingkan semua carut marut sistem perkuliahanku, tidak banyak kurasa yang kudapat. Tidak ada alasan hal itu dikarenakan sistem perkuliahanku yang lebih mirip dengan sistem pembelajar putus asa daripada sistem untuk pembelajar dewasa. Tidak ada alasan karena semua keegoisan kaum pengajar yang menjunjung tinggi idealisme mereka. Tetapi tidak lebih dari pribadi ini yang seakan terhenti menjejakkan kaki dan hanya terpesona oleh idealisme baru ini, hal-hal yang seharusnya hanya merupakan tantangan demi mimpi yang dulu, sementara waktu sudah melenggang dengan sempurna.

Mimpi yang akhir-akhir ini lenyap oleh semua kesibukan dan pekerjaan, dan akhirnya hanya tertinggal ketakutan dan kekuatiran. Memang ada sedikit keberanian di awang-awang, menginginkan pribadi ini beranjak lebih. Beranjak untuk terus berjalan maju menyusul ketertinggalannya dengan waktu. Membuat kepercayaanku makin menebal terhadap sesuatu yang sangat naif : semua ada waktunya.
Sedikit keberanian itu akan kuberikan kepada waktu, yang akan terus berirama maju. Karena pada akhirnyalah hanya waktu yang mampu menghadiahkan mimpi kepada kita.

Jumat, 30 September 2011 Leave a comment

« Postingan Lama Postingan Lebih Baru »
Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
manusia yang dibentuk oleh sejarah dan kemudian membentuk sejarah nya sendiri

Pengikut