ilustrasi @dorotheavera
Big Ben, sebuah ikon negara Inggris
dan kota London yang mahsyur. Berdiri di tengah sibuknya kota London dan di
samping Sungai Thames, melekat dengan kompleks Houses of Parliament (Gedung Parlemen).
Sengaja dibuat tinggi dan anggun mungkin, dengan 12 Angka memutar di pinggiran
lingkarannya. Suara lonceng yang khas terdengar 15 menit sekali seakan memberi
peringatan untuk orang-orang di sekitarnya.
Big Ben. Jam besar yang
mengisyaratkan bahwa perlunya Waktu untuk diperhatikan siapa pun. Siapa pun,
tak peduli kita adalah petinggi yang mengagungkan filosofi ‘Waktu adalah uang’,
ataupun kita adalah segerombolan orang yang berangkat dari filosofi ‘semua ada Waktunya’.
Big Ben yang besar dan anggun ini hanyalah simbol bagaimana Waktu-lah yang
sebenarnya berkuasa. Bagaimana tidak, semua kegiatan kita hanyalah habis dihabisi
Waktu, tanpa peduli adakah akhir bahagia atau harus menunggu beberapa saat lagi
untuk akhir bahagia itu.
Big Ben. Dari jam besar ini aku
mengagungkan Waktu. Waktu yang hanya dicipta oleh 12 angka melingkar. Belajar
bersahabat dengannya agar tak dihinakan olehnya. Gadaikan saja semua mimpi
kepadanya, dan dia akan menjanjikannya. Tagih saja pada penghujung Waktumu,
adakah semua janji itu ditepati atau hanya obralan manis. Tapi semua penagihan kepada
Waktu hanya akan terjawab oleh bagaimana kita memperlakukannya di hari-hari
ini.
Ambil Waktu untuk berpikir, itu
sumber kekuatan. Ambil
Waktu untuk berdoa, itu sumber ketenangan. Ambil waktu untuk belajar, itu
sumber kebijaksanaan. Ambil waktu untuk tertawa, bersamanya terbawa kebahagiaan
hati yang tergetar oleh musik alami. Ambil Waktu untuk bekerja, dengan itu kita
menepati janji yang diberikan oleh Waktu. Belajar berbuat karena manusia
tidak boleh menyerah pada kelelahan. Biar Waktu ini dihabisi oleh kegiatannya
sendiri, tidak sebaliknya.

