Mereka bersolek. Mereka mengenakan kostum yang indah dan megah. Menghafalkan lirik lagu. Melatih gerakan-gerakan melambai yang elok. Dirasa cukup rupawan dan sempurna, malam itu mereka naik ke panggung dengan langkah gagah berani. Berkeliling panggung yang malam itu megah, menari dan menggerakkan bibir sesuai dengan irama musik. Mencoba memuaskan penonton malam itu yang memang sudah tidak sabar dengan hiburan ini, atau hanya ingin sekedar menertawakan tindak tanduk mereka. Tapi tak masalah, asalkan para pengunjung mendapat cukup hiburan, dan sejenak melupakan persoalan hidup masing-masing, mereka senang. Senang hingga persoalan hidup mereka pun juga tersisih meski hanya dalam waktu 2 jam saja.
Tepuk tangan riuh adalah yang mereka harapkan, bukan celotehan yang membuat kaum nya terpinggirkan, terseret sampai ke batas marginnya. Kaum waria.
Kaum yang selama ini hanya bertindak sebagai ‘pelengkap penderita’ dalam tatanan masyarakat. Dicemooh, dilecehkan, bahkan juga mendapat pandangan menjijikkan bagi sebagian besar masyarakat di negara ini. Memang kaum mereka menentang tatanan masyarakat, dan sebagian besar menilai, bahwa mereka menentang kodrat Sang Pencipta. Pandangan-pandangan ini yang kerap membuat kaum mereka melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan sendiri dan hanya menambah citra buruk dari kaumnya. Tapi tidak untuk mereka yang ada di atas panggung. Orang-orang ini adalah seniman. Tambahan kekaguman akan mereka dari kata ‘seniman’ yang disematkan, tentunya akan sedikit merubah citra buruk kaumnya itu.
Di sini, tidak ada keinginan untuk menghakimi mereka seperti penceramah sempurna, dan tidak pula hanya berkoar mengenai pembenaran tentang adanya mereka di tengah masyarakat, bak pahlawan pembela kaum yang terpinggirkan.
Pada kenyataannya, mereka akan selalu menggeliat dan berjuang untuk sebuah penerimaan, dan pencitraan yang lebih baik. Melalui panggung, 2 jam penuh, dan tepuk riuh para penonton.

Posting Komentar