Tiga sahabat itu duduk melingkar. Melepaskan
kepenatannya sejenak dengan masing-masing hidup mereka yang memang masih hanya
beberapa tahun. Belum lagi dua digit mungkin. Bermain memang satu-satunya obat
mujarab. Berlagak seperti orang tua yang sudah kenyang dengan naik turunnya
kehidupan, catur pun menjadi satu-satunya pilihan siang itu. Tak peduli
keramaian umum dan panasnya yang malah tidak umum siang itu.
Mungkin memang mereka bersiap. Ketika
tak ada lagi permainan anak yang bisa mereka mainkan di bumi manusia ini.
Musnah ditelan mentah oleh keangkuhan orang dewasa. Lihat saja, televisi yang
dulu pada masaku seperti ketiga sahabat itu adalah media kedua tempatku
belajar. Belajar memahami angka dan huruf, belajar bernyanyi lagu-lagu membangun
yang memang untuk seumuranku dulu. Tak ada siaran lagu-lagu dewasa dan ftv
bodoh sepanjang waktu. Bisa-bisa otak ini menjadi dungu karenanya.
Kemungkinan kedua adalah ketiga
sahabat ini memang ingin menjadi pintar karenanya. Memang permainan kotak-kotak
hitam-putih ini terkenal akan keahliannya memaksa orang berpikir akan
langkahnya. Seperti membuat keputusan, tak bisa salah langkah. Atau kau akan
dimakan oleh musuhmu. Bukan musuh seperti manusia kikir atau licik yang perlu
dikhawatirkan sebenarnya. Tapi musuh terbesar itu adalah waktu. Dia akan
menenggelamkan dan melumatmu sekehendak hati. Lihat, kau tidak akan bisa
melawan pada saatnya.
Atau mungkin juga, satu-satunya
permainan itu yang mereka mainkan karena tidak ada lainnya lagi. Memang bumi
manusia tempat mereka tinggal ini. Sadar karena orang tua mereka yang memang
hanya penjaja makanan, tak ada keinginan berlebih untuk bisa mengisi waktu
luang lebih dari ini.
Ah, hanya permainan catur. Mungkin tidak
satupun dari ketiga kemungkinan di dalam pikiran ini benar. Peduli setan juga
dengan pendapatku. Apa pun pikiranku menyimpulkan, mereka tetap bersenang hati.
Bersenang meski hanya dengan kotak hitam-putih, dan teman berbagi suka.


Posting Komentar