CERITA POHON DAN GEDUNG BERTINGKAT

Nature is the art of God – Thomas Browne, Religio Medici, 1635.

ilustrasi @dorotheavera


God has cared for these trees, saved them from drought, disease, avalanches, and a thousand tempests and floods.  But He cannot save them from fools – John Muir.


Jumat, 18 November 2011 Leave a comment

PEJUANG DARI PANGGUNG


Mereka bersolek. Mereka mengenakan kostum yang indah dan megah. Menghafalkan lirik lagu. Melatih gerakan-gerakan melambai yang elok. Dirasa cukup rupawan dan sempurna, malam itu mereka naik ke panggung dengan langkah gagah berani. Berkeliling panggung yang malam itu megah, menari dan menggerakkan bibir sesuai dengan irama musik. Mencoba memuaskan penonton malam itu yang memang sudah tidak sabar dengan hiburan ini, atau hanya ingin sekedar menertawakan tindak tanduk mereka. Tapi tak masalah, asalkan para pengunjung mendapat cukup hiburan, dan sejenak melupakan persoalan hidup masing-masing, mereka senang. Senang hingga persoalan hidup mereka pun juga tersisih meski hanya dalam waktu 2 jam saja.


Tepuk tangan riuh adalah yang mereka harapkan, bukan celotehan yang membuat kaum nya terpinggirkan, terseret sampai ke batas marginnya. Kaum waria.

Kaum yang selama ini hanya bertindak sebagai ‘pelengkap penderita’ dalam tatanan masyarakat. Dicemooh, dilecehkan, bahkan juga mendapat pandangan menjijikkan bagi sebagian besar masyarakat di negara ini. Memang kaum mereka menentang tatanan masyarakat, dan sebagian besar menilai, bahwa mereka menentang kodrat Sang Pencipta. Pandangan-pandangan ini yang kerap membuat kaum mereka melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan sendiri dan hanya menambah citra buruk dari kaumnya. Tapi tidak untuk mereka yang ada di atas panggung. Orang-orang ini adalah seniman. Tambahan kekaguman akan mereka dari kata ‘seniman’ yang disematkan, tentunya akan sedikit merubah citra buruk kaumnya itu.

Di sini, tidak ada keinginan untuk menghakimi mereka seperti penceramah sempurna, dan tidak pula hanya berkoar mengenai pembenaran tentang adanya mereka di tengah masyarakat, bak pahlawan pembela kaum yang terpinggirkan.

Pada kenyataannya, mereka akan selalu menggeliat dan berjuang untuk sebuah penerimaan, dan pencitraan yang lebih baik. Melalui panggung, 2 jam penuh, dan tepuk riuh para penonton.

Sabtu, 29 Oktober 2011 Leave a comment

SI PENGATUR MIMPI

Detik pada jam yang terus berjalan perlahan membungkam pikiran yang penuh dengan berbagai macam rencana dan kata-kata ambigu mengenai kewajiban keseharian---kuliah .  Ada satu hal yang terselip saat pikiran ini mengaduh tentang semua pekerjaan yang membuat muak. Satu hal yang membuat semua isi pikiran semacam lenyap diburu oleh ketakutan dan kekuatiran. Satu kata. IMPIAN. Kata yang menjadi penggairah pikiran, penggugah semangat serta kehidupan keseluruhan. Seolah menjadi penyorak pribadi dalam ketiadaan pikiran pemiliknya untuk berbuat setingkat di atas keterbatasannya. 

Semua orang di pelosok bumi ini bebas melayang dengan impian yang tidak jarang terlalu melebihi kemampuannya. Seorang anak pengemis bisa bermimpi menjadi presiden bagi negara yang sakit ini agar tidak ada lagi orang susah sepertinya. Mimpi yang mulia, manis. Tapi itulah mimpi. Dunia di mana kita dapat menjadi seorang superhero, pengusaha sukses, dokter mulia atau bahkan hanya menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Naif memang, tapi tidak ada yang melarang kenaifan di dunia mimpi.

Bicara mengenai impian selalu membuatku bergairah. Impianku yang hanya sederhana ini sejak dulu selalu tergambar besar di dalam awang-awang. Selalu bebas mengitari pikiran dan sedikit-sedikit ada tambahan kecil di dalamnya seiring berjalannya waktu. Tapi tidak lagi tahun-tahun belakangan ini.

Baru saja semester baru memasuki minggu keempatnya di tahun keempat perkuliahanku. Ya, tahun keempat. Pertanyaan terbesar adalah, apa yang sudah kudapat selama waktu itu? Dengan mengesampingkan semua carut marut sistem perkuliahanku, tidak banyak kurasa yang kudapat. Tidak ada alasan hal itu dikarenakan sistem perkuliahanku yang lebih mirip dengan sistem pembelajar putus asa daripada sistem untuk pembelajar dewasa. Tidak ada alasan karena semua keegoisan kaum pengajar yang menjunjung tinggi idealisme mereka. Tetapi tidak lebih dari pribadi ini yang seakan terhenti menjejakkan kaki dan hanya terpesona oleh idealisme baru ini, hal-hal yang seharusnya hanya merupakan tantangan demi mimpi yang dulu, sementara waktu sudah melenggang dengan sempurna.

Mimpi yang akhir-akhir ini lenyap oleh semua kesibukan dan pekerjaan, dan akhirnya hanya tertinggal ketakutan dan kekuatiran. Memang ada sedikit keberanian di awang-awang, menginginkan pribadi ini beranjak lebih. Beranjak untuk terus berjalan maju menyusul ketertinggalannya dengan waktu. Membuat kepercayaanku makin menebal terhadap sesuatu yang sangat naif : semua ada waktunya.
Sedikit keberanian itu akan kuberikan kepada waktu, yang akan terus berirama maju. Karena pada akhirnyalah hanya waktu yang mampu menghadiahkan mimpi kepada kita.

Jumat, 30 September 2011 Leave a comment

MENJAGA RAGA

Apakah hati dan pikiran lebih rentan terkena sakit daripada raga gagah yang menjadi sumber visualisasi dari seseorang? Aku rasa tidak.

Banyak sakit yang dirasa orang. Lalu hati dan pikiran selalu diberikan perhatian lebih dari pemiliknya daripada raga gagah yang dimiliki. Raga gagah selalu terlihat lebih kuat dan super untuk sebuah rasa sakit, sedangkan hati dan pikiran selalu terlihat lebih lemah dan mudah terkena sakit.

Tapi semua perlakuan yang menghakimi hati dan pikiran itu sendiri seharusnya menjadikan mereka semakin kuat dan super. Justru  penghakiman terhadap raga yang menjadikannya semakin lemah setiap hari dan tidak jarang menjadi lebih lemah terhadap penghakiman selanjutnya.

Banyak hati menjadi lebih tahan oleh tolakan tolakan dari lingkungannya, banyak pikiran menjadi  lebih dapat menyesuaikan diri dan siap terhadap berbagai tikungan. Tapi tidak banyak raga yang tahan terhadap berbagai macam persoalan dan ujian fisiknya. Perasaan naif dari pemilik raga yang membuat raga justru semakin lemah setiap harinya. Ironis.

Mereka kira badan ini hanya sebuah bentuk visualisasi. Tapi hanya dalam badan dan raga ini satu satunya tempat tinggal dan tempat kita hidup di dunia. Maka sedapat mungkin perhatian terhadap raga menjadi sama besarnya dengan perhatian terhadap hati dan pikiran.

Take care of our body. It’s the only thing we have to live.

Sabtu, 02 Juli 2011 Leave a comment

BRAND NEW HISTORY

istilah brand new merupakan istilah yang biasa dipakai untuk sesuatu yang sangat baru. dan inilah..sarana menulis ku yang baru. atau semua lebih familiar dengan nama blog. menulis bukan untuk pamer sebuah kemampuan merangkai kata menjadi kalimat, dan kalimat menjadi paragraf (yang sebenarnya kemampuan itu tidak ada). tapi untuk berbagi berbagai peristiwa yang sudah, baru dan akan dijalani.

HISTORY. sebuah pengalaman dan sebuah pelajaran. kalau tidak bisa belajar darinya adalah semacam penghancuran diri. dan itu yang ingin kubagi disini. mungkin tidak hanya pengalaman pribadi, tapi juga pengalaman orang-orang yang kuanggap hebat. dan dari situ semoga kita bisa membentuk sejarah kita sendiri. karena memang begitu seharusnya manusia. 

In het heden ligt het verleden, in het nu wat komen zal.
Dalam masa sekarang, kita melihat masa lalu, dan dalam sekarang juga kita mendapati apa yang akan datang.

sepenggal kalimat yang ada di buku Masalalu Selalu Aktual karangan Polycarpus Swantoro, seorang cerdas sebagai sejarawan dan jurnalis. 
kita hidup adalah sebagai bentukan dari sejarah, dan kita sekarang ini sedang membentuk sejarah kita sendiri. tidak ada pengabaian terhadap sejarah, tapi bukan berarti kita harus hidup sebagai sejarah itu sendiri di masa ini. karena tidak bisa. semuanya berubah dan dunia semakin dewasa, begitu seharusnya kita. dengan belajar dari sejarah kita sendiri (yang berarti berbagai pengalaman dan peristiwa yang kita alami), sejarah orang lain (yang baik atau bahkan tidak), dan semua hal di sekeliling kita, kita punya cukup amunisi untuk membuat sejarah masa depan. 
sedangkan imajinasi untuk masa depan harus dilakukan tanpa batas, termasuk terhindar dari batasan sejarah. tapi dalam mewujudkan imajinasi itulah yang harus dibatasi dengan harus melihat sejarah-sejarah diri masa lalu. dengan demikian, semua hal yang kita lalui masa sekarang, dapat menjadi sejarah manis untuk masa depan.

dan inilah tulisan rangkaian sejarah masa lalu, sejarah masa depan, dan imajinasi untuk sejarah ke depannya lagi...

Sabtu, 18 Juni 2011 Leave a comment

Postingan Lebih Baru »
Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
manusia yang dibentuk oleh sejarah dan kemudian membentuk sejarah nya sendiri

Pengikut